Kesejahteraan Pekerja Anak
Fenomena pekerja anak menjadi masalah yang muncul sebagai akibat negatif dari Industrialisasi. Energi sosial yang seharusnya digunakan untuk melakukan tugas perkembangan dari anak tersebut “diinvestasikan” secara paksa oleh realisme ekonomi keluarga. Anak dijadikan faktor ekonomi yang menunjang keberlangsungan keluarga agar mereka dapat hidup dengan mencukupi kebutuhan dasarnya. Apabila dikaitkan dengan Hak Asasi Manusia, perbuatan tersebut jelas melanggar Hak anak untuk dapat hidup sebagaimana anak-anak pada umumnya, menikmati masa-masa bermain dan mandapatkan perhatian yang labih dari orangtua nya. Dari sisi orang tua sebagai sarana sosialisasi anak yang terpenting, anak di sosialisasikan untuk berperilaku sesuai dengan keinginan orang tuanya tersebut—berdasarkan tingkatan pencapaian uang yang didapat dari pekerjaannya. Ini dapat dibuktukan bahwa kasih sayang orang tua menjadi terbatas pada perilaku-perilaku ekonomis dimana anak-anak tersebut hanya mendapatkan kasih sayang apabila mereka mendapatkan uang yang banyak dari pekerjaannya. Jadi, kasih sayang orangtua direduksi menjadi ukuran pencapaian pendapatan sang anak atau dapat dikatakan terjadi mekanisme determinasi ekonomi terhadap perilaku orang tua sebagai balasan atas pencapaian ekonomi anak. Anak juga kurang mendapat perhatian dari orang tua dikarenakan orangtua lebih memberikan fokus perhatian terhadap pekerjaannya sendiri untuk mencari uang. Dengan mekanisme hubungan ini—secara global, pekerja anak yang merupakan kelompok sub-sistem dari sistem masyarakat yang tidak dapat sejalan dengan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat.
Berkaitan dengan pekerja anak, kita mengetahui bahwa masalah anak jalanan merupakan salah satu masalah sosial yang diproduksi dan direproduksi oleh masyarakat. disini, deskripsi dan definisi dari masalah pekerja anak yang mencuat di masyarakat dapat dipandang sebagai masalah sosial dikarenakan sistem dalam masyarakat yang memberikan definisi seperti itu. Masyarakat memberikan pemahaman tersendiri terhadap pekerja anak yang membuat penafsiran bahwa pekerja anak merupakan golongan yang berpotensi untuk melancarkan praktek-praktek kapitalisme dengan menekan pendapatan mereka dengan gaji sangat murah dan berakibat pada tingginya capital gain mereka. Persepsi terhadap orang tua pekerja anak tersebut menjadi negatif pula sebagai pihak yang tidak bisa mendidik anaknya. Peran keluarga sebagai sarana sosialisasi nilai yang baik menjadi buruk dimata masyarakat. Masalah pekerja anak tidak eksis sebelum sistem masyarakat yang mendeskripsikan anak jalanan sebagai suatu ‘masalah’ itu ada. Pekerja anak baru dapat dikatakan merupakan masalah saat masyarakat merasa membutuhkan suatu sistem yang dapat melindungi hak-hak anak yang terampas dari praktek-praktek pengeksploitasian tersebut.
Masyarakat membangun strukur dan batas-batasnya sendiri yang mendefinisikan dirinya dengan membentuk pemahaman dengan membangun sebuah norma-norma sosial yang mendeskripsikan bahwa memperkerjakan anak adalah suatu tindakan yang melaggar hak-hak anak dan dengan diberlakukannya norma sosial tersebut, membuat anak dan keluarganya dimarginalkan secara sosial. Ini menambah permasalahan lain sebagai hasil dari praktek-praktek pekerja anak. Terjadi bentrokkan nilai-nilai antara nilai-nilai umum yang memandang rendah praktek pekerja anak dan keluarga yang melegalkan praktek tersebut dengan nilai-nilai yang terdapat dalam keluarga yang mengijinkan anak untuk bekerja dan menanggung beban ekonomi keluarga sebagai suatu hal yang bukan merupakan sebuah masalah. Masyarakat mempunyai norma-norma yang digunakan untuk mengatur mekanisme fungsional sub-sub systemnya. Norma ini diberlakukan, diaplikasikan, ditafsirkan, dimanfaatkan untuk menjamin keberfungsian social individu-individu sebagai elemennya. Disini, keluarga dari pekerja anak cenderung dipandang oleh masyarakat sebagai out of context atau subsistem yang oleh masyarakat dianggap berada di luar system masyarakat apabila kita merujuk pada pemahaman dari fungsional anak yang dirampas oleh keluarganya. Berada diluar sistem, dikarenakan masyarakat menuntut subsistem-subsistemnya untuk sejalan dengan norma yang berlaku di dalam masyarakat (memenuhi persyaratan fungsional yang digunakan untuk menghindari ketidakberfungsian subsistem dalam masyarakat sehingga subsistem tersebut dapat bersinergi dengan subsistem-subsistem yang lain). Pekerja anak dan keluarganya dipandang juga—apabila kita kaitkan dengan statement diatas, merupakan subsistem yang tak dapat merefleksikan norma.
Panji..wah,blognya keren! tadi ga sengaja googling mw nyari blognya Mas Abud, eh..ktemu blogmu. Aku link di blogku yang masih amburadul ya…
sebenernya pengennulis banyak juga di blog, tapi blom tercapai. insyaAllah…nanti menyusul.
oia, beberapa ada yg ku paste ya…buat masukan CHILL dan tugas kuliah Maskem dari Mas Abud. Thx
Oleh: eka on 28 Juni 2008
at 5:04 am
perlu dicari ‘root’ masalah dari adanya pekerja anak. Selain adanya nilai ekonomis anak juga adanya sistem ekonomi neolib yang makin menggurita.
nice blog, inspiratif
Oleh: bunga rumput on 8 Januari 2009
at 5:08 am