Konsep I dan Me merupakan suatu bagian dari konsep diri, yaitu bagaimana setiap individu mendefinisikan dirinya sendiri. Konsep diri terdiri dari kesadaran individu mengenai keterlibatan yang khusus dalam seperangkat hubungan sosial yang sedang berlangsung atau dalam komunitas terorganisasi. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa perilaku individu dikendalikan oleh bagaimana individu tersebut mempertimbangkan penilaian orang lain terhadap dirinya.
I dan Me merupakan konsep yang dikemukakan oleh Mead–yang berasumsi bawa ‘diri’ terbagi menjadi dua bagian, yaitu diri sebagai subyek atau yang ia sebut ‘I’ dan diri sebagai obyek atau ‘Me’. I bersifat non-reflektif dalam artian dia tidak mencakup ingatan-ingatan/tindakan-tindakan baik masa depan maupun masa lampau. Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa I merupakan respon perilaku aktual individu terhadap tuntutan situasi yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan/ rencana sekarang. Namun begitu dilakukan, maka ini menjadi bagian dari Me dalam konsep diri. Hubungan I dan Me bersifat saling tergantung dan dinamis (Priadi P. Hand out tesos bab interaksi simbol).
I dan me berkembang seiring dengan proses interaksi sosial individu dengan lingkungan sekitar. Dari semenjak lahir seseorang mulai membentuk konsep diri dalam dirinya dengan mengamati tingkah laku orang tuanya terhadap dirinya. Kemudian terjadi sosialisasi, dan internalisasi nilai-nilai yang ia amati dari lingkungannya, misalnya pada saat orang tua saya mengajak berbicara, mendongeng dan bermain. Ada nilai-nilai yang terinternalisasikan dari kegiatan tersebut. Kemudian seiring dengan bertambahnya usia individu mengalami tahap-tahap dalam pengembangan konsep diri. Pada tahapan yang pertama yaitu tahap bermain (play stage), individu disosialisasikan atau diajarkan untuk mengambil/ memainkan peran sosial orang lain seperti memainkan peran sebagai bapak-bapak dengan teman sebaya dan yang lain memainkan peran sebagai ibu, anak, suster, dokter dan membentuk suatu ‘keluarga’ dengan memainkan peran masing-masing; tahap yang kedua yaitu tahap game stage, dimana individu menjalankan peran dari beberapa orang lain dan kemudian mengorganisir mereka dalam suatu permainan/pertandingan seperti berperan menjadi kiper pada saat bermain bola dan kemudian belajar mengorganisir teman- teman satu tim; kemudian tahapan yang ketiga yaitu generalized others, dimana anggota organisasi sosial mampu mengontrol perilakunya menurut peran-peran umum. Pada tahap generalized other inilah dalam diri individu sudah tertanam suatu nilai-nilai dalam dirinya dalam berprilaku di masyarakat sebagai hasil dari proses sebelumnya yaitu tahap play stage dan game stage seperti berprilaku sopan saat menghadiri pertemuan dengan tokoh masyarakat saat rapat warga.
I merupakan aspek diri dimana ada ruang untuk spontanitas dan kebebasan. Pada saat kecil menurut saya, I merupakan unsur yang domunan yang terdapat dalam diri saya. Contohnya adalah pada saat marah secara spontan dikarenakan diperolok oleh teman dengan cara memperolok lagi atau berkelahi. Fenomena tersebut menyimpulkan bahwa pada saat kecil I saya lebih dominan. Kemudian orang tua saya menegur perbuatan saya agar saya tidak cepat marah dan menahan diri dengan cara menanamkan nilai-nilai tertentu seperti perkataan “Tidak enak dilihat tetangga”, “maafkan saja mungkin temanmu hanya bercanda”,”sabar”, “ibu akan menghukum kamu kalau kamu berkelahi lagi”. Pada saat itu, tertanam nilai nilai dalam diri saya untuk menyikapi perbuatan tersebut sesuai yang diharapkan oleh lingkungan. Dan kemudian pada saat setelahnya, apabila teman tersebut memperolok lagi, nilai nilai yang telah tersosialisasikan sebelumnya itu tertanam, sehingga saya lebih sabar menghadapinya dan orang tua saya tidak memarahi saya. Pada tahap ini berarti saya telah mempertimbangkan lingkungan dalam bersikap untuk sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kasus ini merupakan wujud dari konsep Me.
Kemudian seiring dengan perkembangan, lama kelamaan konsep Me lebih dominan dalam diri saya dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan atau bisa dikatakan lebih mempertimbangkan penilaian orang lain terhadap perilaku yang kita lakukan.
Namun, I dapat timbul dalam interaksi sosial yang antara lain dikarenakan adanya respon spontanitas terhadap sesuatu hal. Pada fenomena tersebut, konsep Me lah yang merupakan suatu sikap yang seharusnya diperlihatkan dalam melakukan interaksi dengan masyarakat dikarenakan Me mengandung nilai-nilai yang diperlukan dalam interaksi sosial yang sedang dilakukan. Contoh disini adalah pada saat saya tersiram air panas secara tidak sengaja oleh teman saya. Secara spontan sikap ‘asli’ atau yang disebut I muncul sebagai respon terhadap peristiwa tersebut yang diperlihatkan dengan mengeluarkan kata-kata kasar. Perbuatan tersebut tidak mencerminkan norma-norma yang seharusnya dijaga pada saat melakukan interaksi sosial yang dalam artian konsep Me tidak terimplementasikan dalam kasus tersebut.